Dialektika Nilai Pesantren dan Narasi Modern: Persepsi Mahasiswi UNIDA Gontor terhadap Fenomena Childfree
DOI:
https://doi.org/10.69879/familierecht.v1.i2.106Keywords:
Childfree, Pandangan Mahasiswi, Maslahah, Pendidikan Pesantren, Maqashid Syari’ahAbstract
Fenomena childfree atau keputusan untuk tidak memiliki anak, telah menjadi topik perbincangan yang menimbulkan pro dan kontra di Indonesia. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2022, prevalensi perempuan di Indonesia yang memilih untuk childfree mencapai sekitar 8% pada kelompok usia 15-49 tahun yang pernah menikah, dan angka ini diprediksi akan terus meningkat. Meskipun demikian, pandangan mayoritas masyarakat Indonesia masih menganggap anak sebagai anugerah dan tujuan utama pernikahan sesuai ajaran agama serta budaya. Namun, kajian mengenai persepsi mahasiswa yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis pandangan mahasiswi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 2021/2022, yang dikenal dengan lingkungan pendidikan agamanya yang kuat, terhadap fenomena childfree. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan 14 mahasiswi UNIDA Gontor dari berbagai program studi , sementara data sekunder didapatkan dari literatur, jurnal, dan penelitian terdahulu. Analisis data dilakukan dengan tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta menggunakan teori maslahah Imam Al-Syatibi sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswi (10 dari 14 orang) menolak konsep childfree. Penolakan ini didasari oleh faktor agama, yaitu keyakinan bahwa anak adalah amanah Allah dan tujuan pernikahan , serta faktor sosial dan budaya yang menekankan keberlanjutan generasi. Sementara itu, tiga mahasiswi menyatakan setuju dan satu bersikap netral. Pandangan ini didasari pertimbangan kesiapan mental, kondisi ekonomi, dan pengalaman pribadi seperti trauma. Berdasarkan analisis teori maslahah, pandangan penolakan berada pada tingkatan dharuriyyat, sedangkan pandangan yang mendukung atau netral berada pada tingkatan hajiyyat atau tahsiniyyat.
Downloads
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Amalia Sholikhah, Ahmad Syaifudin Anwar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
